Sunday, 7 October 2018

Belajar Akuaponik Sistem DFT #3

Artikel sebelumnya Belajar Akuaponik Sistem DFT #2, telah didapat hasil yang memang kurang bagus, sekarang kita mengembangkan dari yang telah didapat sebelumnya. Memang prosesnya lama, sampai menuggu panen, harap maklum lahan belajar kita sempit, dan pralon hanya tersedia sedikit, tapi yang penting semangat belajar dan mencoba tak pernah berhenti.
Bila artikel sebelumnya media pasir malang diisi penuh, yang sekarang dikurangi hanya sekitar 3/4 saja. Ada 1 wadah yang diisi 3/4, tapi lubang samping pada wadah dibuat di bagian bawah saja. Kita akan lihat bagaimana pertumbuhannya dibandingkan dengan yang lain, apakah ada perbedaan ?.

Pada tanggal 24 Agustus 2018, benih yang telah disemai ala Wana Wana yaitu dengan menggunakan endapan kotoran ikan sudah siap dipindah. Seperti sebelumnya, pemindahan dilakukan sore hari, dan saat dipindah, endapan yang menempel pada akar tidak dibersihkan, hal itu membuat tanaman mudah beradaptasi.


Pembenihan ala Wana Wana

Seiring waktu semua tanaman tumbuh dengan baik, tidak ada yang disulam, karena sejak awal endapan yang menempel di akar tanaman tidak dibersihkan tapi tetap dibiarkan menempel. Selama proses pertumbuhan tidak ada kendala, semua berjalan normal, hanya sesekali membersihkan pompa yang sudah kotor. 
Rangkuman perkembangan tanaman coba saya bagikan lewat foto-foto di bawah ini.


10 hari setelah tanam.


31 hari setelah tanam


41 hari setelah tanam


Tampak dari bawah


Tampak samping


Tampak atas

Dari foto-foto di atas akhirnya bisa dilihat perbedaan pertumbuhan tanaman. Kebetulan saya melihat secara langsung di lapangan jadi bisa melihat dengan jelas perbedaannya. Jika saya golongkan, pertumbuhan tanaman bisa dibagi menjadi 3.

1. Tanaman yang tumbuh sangat merana, sangat kurang subur dibanding yang lain (lihat pada foto-foto di atas). Tanaman tersebut tumbuh pada wadah yang bagian samping dilubang hanya bagian bawahnya saja, dan bagian bawah yang berlubang tersebut terendam air. 




2. Tanaman bisa tubuh lebih subur, tanaman yang ada digolongan ini, wadah dan media di dalamnya bersentuhan dengan air lebih tinggi, hal ini akibat kemiringan pralon/pvc, yang jika saya gambarkan seperti ini




Tanaman yang ada di golongan ini posisinya ada di sebelah kanan atau yang level airnya lebih tinggi.

3. Tanaman paling subur dan paling tinggi, sama seperti golongan ke-2, wadah diberi lubang samping sampai 3/4 bagian dan media juga sampai 3/4 bagian. Hanya saja tanaman pada bagian ini, level air di peralon lebih rendah sehingga tidak banyak terendam air, mungkin hal ini yang membuat tanaman lebih subur karena banyak oksigen yang bisa diserap.




Dari pengalaman ini saya mencoba mendesain lagi wadah yang nantinya diharapkan hasilnya akan lebih baik lagi. Mungkin sekian dulu, kita ketemu pada ujicoba berikutnya yang sudah dimulai.

Bersambung...

Sunday, 9 September 2018

Belajar Akuaponik Sistem DFT #2

Artikel sebelumnya Belajar Akuaponik Sistem DFT, saya coba berbagi pengalaman dalam menanam dengan sistem DFT. Dalam sistem DFT dengan pvc 2,5" tentu sudah ada hasil, nah yang sistem dengan pvc 4" belum ada hasilnya. Kali ini saya coba update hasil percobaan pada sistem pvc 4", yang hampir setiap hari diamati pertumbuhannya. 
Diawal pertumbuhan memang terlihat bagus, bahkan sampai dewasa, hal itu terlihat dari warna daun yang tetap hijau sebagai tanda tidak kekurangan nutrisi, semua terlihat normal-normal saja. Tapi, ketika saya coba bandingkan dengan tanaman sawi yang ditanam dengan media kompos, dengan bibit dan semaian yang sama ternyata ada perbedaan. Memang jika dipandang secara sekilas tidak akan terlihat perbedaan itu, tapi jika diperhatikan lebih detail akan terlihat lebih jelas perbedaan itu, mungkin foto di bawah ini akan bisa menggambarkan perbedaan itu.


Media tanam kompos.

Sistem DFT pvc 4"
Jika disebutkan ada beberapa perbedaan, antara lain
1. Warna daun di sistem DFT agak lebih kuning, berbeda dengan yang di tanah.
2. Serat daun yang yang ada di sistem DFT terlihat lebih jelas.
3. Daun bagian bawah pada sistem DFT terlihat sangat kuning, sementara yang di tanah hal itu tidak terlihat.
4. Ketika daun kita patahkan, sawi yang di tanah lebih mudah patah atau bisa dibilang renyah, sedangkan yang di sistem DFT cenderung banyak serat sehingga sulit patah.
5. ketika dimasak, sistem DFT tidak terasa renyahnya, berbeda dengan sawi yang ada di tanah/kompos, atau bisa dibilang sawi hasil kompos jauh lebih enak dibandingkan dengan dengan sistem DFT.

Dari ke-5 perbedaan itu saya coba cari-cari di internet kira-kira dengan ciri seperti itu tanaman sawi kerkurangan unsur apa. Memang sulit mendeteksi tanaman dan menyimpulkan bahwa tanaman tersebut kekurangan unsur tertentu. Saya pribadi tidak berani menyimpulkannya, tapi saya akan tetap mencari tahu kenapa bisa berbeda seperti itu. 
Tahap pertama yang coba perbaiki adalah cara tanamnya, karena jika diperhatikan dari semua akar tanaman sawi di sistem DFT, hampir sebagian besar akar tanaman berada di lapisan atas, dan hanya sedikit sekali yang sampai ke bawah atau ke air/sumber nutrisi. 


Coba lihat akarnya.

Saya pribadi bertanya, apakah ini akibat dari banyak dan padatnya pasir dan sedikitnya lubang untuk oksigen sehingga akar tidak mampu menembus ke lapisan bawah untuk mencari sumber nutrisi, atau ada akar yang mampu ke sumber nutisi tapi kemudian membusuk karena kekurangan oksigen?. Dari pertanyaan itu akhirnya saya akan diperbaiki lagi cara tanamnya. ada dua opsi yang saya coba, pertama dengan mengurangi pasir menjadi 1/2, dan yang ke-2 dengan mengganti wadah dengan banyak lubang oksigen.
Dua opsi di atas akan saya coba, semoga ada perbaikan dan hasil panenan bisa lebih memuaskan.. amin..

Bersambung

Saturday, 11 August 2018

Belajar Akuaponik Sistem DFT

Dalam akuaponik terdapat berbagai teknik menanam, beberapa diantaranya adalah sistem pasang surut, sistem aliran atas, sistem sumbu, sistem tower/menara, sistem rakit apung sistem NFT dan sistem DFT. Beberapa sistem telah saya coba, untuk sistem pasang surut dan sistem aliran atas sampai saat ini masih menjadi primadona. Mengapa sistem pasang surut dan sistem aliran atas menjadi primadona, dari pengalaman selama ini, ada beberapa kelebihan dari sistem ini, antara lain mudah diaplikasikan, pertumbuhan tanaman lebih stabil, berbagai jenis tanaman bisa diaplikasikan dengan sangat baik dan tentu saja air kolam menjadi lebih jernih dengan sistem ini, meski aliran air langsung dialirkan ke kolam dari tanaman.  
Dari sekian banyak teknik menanam, sistem NFT dan DFT sebenarnya sangat menarik, terlebih jika kita ingin menanam sayuran daun seperti kangkung, sawi, slada, seledri, dll. Hanya dengan berbekal 1 pipa pvc panjang 4 m dan berdiameter minimal 2,5" kita bisa menanam sekitar 20 tanaman sayur yang jika bisa tumbuh subur akan terlihat sangat cantik dan menarik. 
Sistem NFT atau Nutrient Film Technique dan DFT atau Deep Flow Technique merupakan sistem yang hampir sama, yang membedakannya adalah kedalaman air atau nutrisi. Sistem NFT memiliki kedalaman yang sangat dangkal atau bisa dikatakan tipis sesuai dengan namanya film, sedangkan DFT tentu lebih dalam sesuai juga dengan namanya deep. Jadi bisa dikatakan dengan bahasa mudahnya, NFT aliran tipis tanpa genangan dan DFT aliran yang ada genangannya. Memang secara pribadi saya masih bingung juga, apakah NFT dan DFT hanya berdasarkan kedalaman air saja, ataukah  teknik peletakan tanaman juga harus dikhususkan supaya dapat disebut NFT atau DFT. Saya tentu tak ingin berdebat panjang, yang terpenting bagaimana kita bisa menumbuhkan tanaman dengan sistem akuaponik yang mirip dengan sistem DFT atau NFT he...
Memang teknik ini terlihat mudah, hanya sekedar mengalirkan air ke pipa pvc dan menggantungkan tanaman di atasnya maka tanaman bisa subur. Kenyataannya tidak semudah itu. Kurang lebih 6 tahun ber-akuaponik, saya berusaha untuk mencoba mengumpulkan pengalaman dan mencari apa saja penyebab tanaman tidak subur dalam sistem akuaponik. Sistem NFT dan DFT pernah saya coba,  waktu itu akuaponik benar-benar belum seheboh sekarang sehingga saya tidak tahu jika yang saya coba itu adalah teknik NFT atau DFT. Dari hasil yang dicoba, ternyata tanaman tumbuh mengenaskan, ketika itu percobaan dihentikan dan lebih fokus ke sistem pasang surut dan sistem aliran atas. 
Dengan banyak mencoba dan mengamati, saya semakin paham bahwa yang kita tanam sebagian besar adalah tanaman darat, bukan tanaman air seperti kangkung, jadi kita harus memperlakukannya berbeda. Seperti halnya kita memelihara ikan dan ayam, jika ayam kita tenggelamkan ke air seperti ikan, 10 menit saja mungkin akan mati karena kehabisan oksigen. Dari pengalaman berakuaponik selama ini, ternyata juga demikian halnya, tanaman darat jika kita rendam dalam air tanpa ada oksigen, ya secara perlahan akan mati juga. 
Apa yang saya lakukan selama ini adalah tetap berpegang prinsip dan keyakinan bahwa tanpa penambahan unsur dari luar pun tanaman akan bisa subur, dengan sistem pasang surut, mupun sistem aliran atas hal itu sudah terbukti, terlihat dari artikel-artikel saya sebelumnya.
Nah dari pengalaman pasang surut dan aliran atas itulah akhirnya saya mendapatkan banyak ilmu, berbekal ilmu itulah saya mencoba lagi sistem DFT. Dalam sistem yang coba saya bangun, saya tidak melibatkan aerator, hal itu adalah upaya saya untuk mengurangi konsumsi listrik, untuk itulah saya berusaha menemukan cara supaya tanaman tetap bisa bernafas dalam sistem DFT.

Dalam membangun sistem DFT ini, secara kebetulan pipa pvc yang saya pergunakan ada dua ukuran, yang pertama ukuran 2,5" yang dulu pernah saya gunakan dan akhirnya dihentikan, yang ke-dua ukuran 4". Untuk pvc 2,5" penanaman menggunakan netpot dan media yang digunakan untuk menanam adalah rockwall. 
Pada artikel sebelumnya, saya mencoba berbagi tentang pembibitan dengan menggunakan endapan kotoran ikan yang sudah hancur dan tidak berbau. Nah, pembibitan pada tanaman sawi yang akan ditanam pada pvc 2,5" ini menggunakan rockwall yang diletakkan diatas endapan kotoran ikan. Dalam pemikiran saya, rockwall tidak akan mudah kering, dan setelah akar mulai berkembang maka akan mendapatkan asupan nutrisi dari endapan tersebut. Jujur cara ini saya anggap bagus karena pada kenyataannya tanaman bisa tumbuh bagus semasa pembibitan.


Rockwall diletakkan di atas endapan kotoran ikan.

Setelah umur sekitar 2 minggu, tanaman dipindahkan ke netpot dengan sangat hati-hati supaya akar jangan banyak yang terputus. Endapan kotoran ikan yang mengeras ikut dibawa dan diletakkan ke dalam netpot. Endapan yang terbawa ini yang bersentuhan dengan air di dalam pvc, sementara rockwall tidak. 
Seiring waktu, ternyata tanaman tumbuh baik, memang terkadang ada warna kuning yang muncul tapi tidak untuk semua tanaman, dan warna itupan sering berubah ubah dalam waktu beberapa hari. Karena saya tetap mempertahankan nutrisi dari kotoran ikan hal itu saya biarkan sekaligus sebagai bahan pengamatan saya.







Dari yang saya amati, jika salah satu sumber aliran air/nutrisi mampet dan tidak terdeteksi beberapa hari, maka tanaman sawi akan mulai terlihat menguning, tapi setelah diperbaiki daun baru akan mulai hijau kembali, sementara daun yang menguning tetap akan menguning. Tapi secara keseluruhan sistem ini berjalan baik.


Untuk pvc 4", wadah tanam menggunakan gelas bekas minuman mineral yang bagian samping dilubang menggunakan solder, dan bagian bawah dilubang cukup besar dengan diameter sekitar 2 - 2,5 cm. Media yang digunakan terdiri dari rockwall setebal 1 - 1,5 cm diletakkan di dasar gelas. Di atas rockwall diisi pasir malang sampai penuh. Jadi rockwall bertujuan supaya pasir tidak jatuh, selain itu akar yang akan menembus dasar gelas tidak terhalang tapi tetap bisa menembus sampai ke luar. Dengan cara ini harapan saya bisa lebih menghemat rockwall, dan pasir yang digunakan dapat digunakan secara terus menerus.




Karena saya merasa sudah mantap dengan mengandalkan endapan kotoran ikan, maka dalam pembibitan tanaman untuk ditanam di pipa pvc 2,5" ini saya lakukan hal yang sama. bedanya dengan yang 2", sekarang tidak menggunakan rockwall, jadi benih langsung disemai di atas endapan kotoran ikan. 





Setelah umur cukup sekitar 2 minggu, tanaman beserta endapan yang menempel dipindahkan ke wadah gelas dengan media pasir malang yang sudah disiapkan sebelumnya. Untuk level air yang ada di pipa pvc dijaga sampai menyentuh gelas maksimal 1/4 bagian bawah, jadi bisa dikatakan media yang terendam air hanya 1/4 bagian bawah. Karena dalam pemindahan tanaman endapan kotoran yang menempel juga ikut dibawa, maka tanaman dalam proses adaptasi jauh lebih cepat. Oh iya sebelum pemindahan pastikan pasir bagian atas sudah basah karena kapilaritas. 






Dan sampai saat ini usia 10 hari dari pindah tanam, sayuran sama sekali tidak terlihat tanda-tanda menguning, dan ketika coba saya angkat, akar mulai menjalar keluar menyentuh genangan air. Semoga saja percobaan ini berhasil.. 


Bersambung...

Saturday, 30 June 2018

Endapan Untuk Pembibitan

Selama ini, meski sudah agak lama bermain-main dengan akuaponik, masalah pembibitan selalu mengandalkan tanah, karena selain hailnya hasilnya bagus, sistem yang digunakan kebanyakan sistem pasang surut dengan media. 
Suatu hari, pas kebetulan ingin melakukan pembenihan tanaman sawi, karena kebetulan stock sayur di kebun mulai menipis, terpikir untuk mencoba alternatif lain media pembibitan. Media yang dipilih yang subur dan tidak mudah kering. Pilihan dijatuhkan ke endapan kotoran ikan, karena kebetulan saya sering mengambil endapan, sekedar untuk mengurangi supaya tidak terlalu banyak menumpuk. Tentu saja, endapan yang digunakan adalah endapan yang sudah terproses menjadi seperti pupuk, bentuknya sangat lembut dan tidak berbau. 
Endapan dari yang saya amati ada dua macam, endapan yang masih baru dan endapan yang sudah lama yang sudah terproses menjadi pupuk. Endapan baru cenderung masih berbau, jika endapan tersebut kita angkat baunya sangat menyengat. Kebetulan kolam koi terdiri dari beberapa sekat, sekat ke-3 inilah yang banyak terdapat endapan yang sudah menjadi pupuk, jadi endapan ini yang saya ambil.
Sekitar dua minggu yang lalu coba saya praktekkan, endapan diserok dengan jaring ikan yang lubangnya sangat kecil/lembut. Endapan dikumpulkan dalam wadah yang tidak berlubang Pikiran saya waktu itu memilih wadah tidak berlubang karena dalam pembenihan dari biji membutuhkan kondisi yang basah. Setelah wadah penuh, biji mulai diletakkan atau saya tempelkan di permukaan tanpa dipendam.
Selang 1-2 hari biji mulai berkecambah dan mulai dikenalkan dengan sinar matahari. Selama proses pembibitan, hanya minggu ke-2 setelah penyebaran biji, baru dilakukan penyiraman, karena selama 1 minggu pertama endapan masih basah walau air sudah berkurang banyak akibat penguapan dan juga diserap tanaman.









Selama proses pertumbuhan dari biji, semua berjalan baik, hampir semua biji tumbuh, dan ketika sudah mulai muncul daun sejati, ternyata daunnya tetap berwarna hijau, tidak ada tanda-tanda kekurangan nutrisi. Sampai usia 2 minggu tanaman terlihat subur dan siap dipindah. Kebetulan pembibitan kali ini akan ditanam di media tanah.




Dalam proses pemindahan ternyata jauh lebih mudah lagi dibandingkan dengan menggunakan media tanah. Jika menggunakan media tanah cenderung tanah akan hancur dan tersisa akar, jika dengan endapan, tinggal diambil dengan sendok, endapan dan akar menyatu sehingga tanaman jauh lebih cepat beradaptasi ketika dipindahkan. 




Mungkin coba-coba kali ini hanya untuk tanaman sawi, lain kali akan dicoba dengan tanaman lain seperti cabe, tomat, dll.

Selamat mencoba

Wana Wana

Friday, 29 June 2018

Rindu Mengolah Tanah

Sebelum mengenal akuaponik, kebun belakang dimanfaatkan untuk menanam sayuran, dengan media tanah. Sekarang, meski lebih banyak bermain dengan akuaponik, tapi masih sedikit tetap menanam dengan media tanah meski dengan wadah pot kecil dan sering tak terurus.
Lama bermain-main dengan akuaponik, rupanya rindu juga dengan kebiasaan menyiram tanaman, mencangkul, menyiangi tanaman. Harap maklum, dalam menanam sayuran dengan sistem akuaponik, aktivitas seperti menyiram, mencangkul tidak lagi dilakukan, karena dengan akuaponik yang kita lakukan hanya memberi makan ikan, dan mengontrol sistem supaya tetap lancar.
Untuk mengobati rindu kebiasaan menanam dengan media tanah, ada keinginan untuk menghidupkan lagi aktifitas itu, sekaligus untuk pembelajaran anak-anak yang kebetulan sudah mulai bisa diajak 'kerjasama'. Dan supaya dapat terwujud keinginan itu, dicoba untuk memaksimalkan lahan pekarangan yang ada.
Kebetulan pekarangan yang ada  terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan belakang. Untuk memanfaatkan bagian depan rasanya tidak mungkin, karena bagian depan sengaja  ditanami pohon besar, tujuannya untuk menyaring udara yang masuk ke rumah supaya bersih dan segar. Jalan lain adalah memanfaatkan lahan bermain di belakang yang selama ini memang tidak dimanfaatkan untuk menanam namun untuk bermain anak-anak. Supaya anak-anak tetap memiliki aktivitas bermain di luar ruangan, maka untuk mengganti lahan bermain di belakang, di depan di bawah pepohonan dibuatkan area bermain buat anak-anak, walau hanya sederhana dan dibuat sendiri he..





Depan buat bermain.

Sebelum memanfaatkan ruang bermain di lahan belakang untuk menanam sayuran, tentu harus mendapatkan persetujuan istri juga, nggak boleh egois he... Setelah disetujui, barulah dieksekusi. Lahan untuk menanam dibuat bedengan yang terdiri dari 3 kotak. Supaya bisa rapi dan tanah tidak melorot, untuk tiap bedengan dipasang pembatas dari policarbonat yang kebetulan ada bekas atap pendopo dan tak terpakai.
Meski tidak besar, tapi dengan cara ini menanam sayuran di tanah bisa terkabul he... Di lahan ini, saya dan keluarga bisa menyiram sayuran dengan gembor, mengolah tanah dengan cangkul atau 'gathul', bisa menyiangi jika lahan sudah banyak ditumbuhi rumput liar, dan masih banyak lagi.


Biar kayak di luar negri he...


3 bedeng, 1 sudah terisi, 2 lagi belum.


Yang lebih penting, meski anak-anak masih kecil, paling tidak mereka bisa melihat kebiasaan orang tuanya bercocok tanam, dengan cara inilah semakin lama mereka akan semakin tertarik, seperti pepatah yang mengatakan 'Treno Jalaran Seko kulino'. Dan pada saatnya tiba mereka mulai dilibatkan dan diberi tanggungjawab walau hanya menyiram setiap hari.

Untuk tanah, saya memanfaatkan kompos dari bank sampah daun yang sudah jadi, dicampur dengan pupuk kandang. Dengan cara ini dedaunan kering yang gugur bisa lebih bermanfaat lagi daripada harus dibuang atau dibakar. 
Semoga dengan cara ini semangat berkebun akan terus membara.... amin...

Selamat berkebun

Wana Wana

Sunday, 3 June 2018

Pare Belut/Ular Akuaponik

Setelah 2 bulan lebih tidak menulis karena pekerjaan yang banyak menyita waktu, kini setelah lebih longgar akhirnya bisa berbagi lagi tentang akuaponik. Meski pekerjaan menumpuk, di sore hari sepulang kerja, akuaponik tetap menjadi perhatian, karena bagaimanapun akuaponik menjadi aktivitas penting di keluarga kami. Walau hasilnya bukan dalam bentuk uang, tapi apa yang dihasilkan dari akuaponik sangat bermanfaat bagi keluarga, selain sayur dan lauk, kami bisa mendapatkan lingkungan yang asri, banyak oksigen yang tentu membuat lingkungan lebih sehat, dan berbagai keindahan dan keunikan semua makluk yang menjadi bagian dari akuaponik.
Postingan kali ini kami berbagi tentang pare belut atau pare ular yang kami tanam di sistem akuaponik. Awal menanam sebenarnya tidak sengaja, hanya kebetulan tetangga kami depan rumah, Ibu Eko menanam pare belut yang buahnya tinggi bergelantungan di atas pohon dan menarik perhatian kami he... Sampai akhirnya suatu hari kami lihat ada yang sudah tua dan sepertinya ada biji yang berjatuhan, dan kami meminta sebagian biji yang jatuh untuk ditanam.
Awalnya kami mencoba menanam di tanah karena kami rasa jika di akuaponik dengan buah yang besar dan panjang akan sulit. Setelah biji yang kami semai di tanah tumbuh 2 helai daun, pikiran kami berubah, kenapa tidak mencoba di akuaponik, siapa tahu bisa berbuah, karena sayuran buah yang lain juga bisa tumbuh.
Dalam menanam pare belut di akuaponik ini, sengaja kami letakkan di growbed yang besar, karena dari pengalaman, ketika menanam tanaman seperti tomat, pare, cabe jika ditanam di growbed yang ukurannya kecil meskipun itu akuaponik, pertumbuhan tanaman tidak maksimal, kemungkinan besar karena perakaran tidak bisa tumbuh maksimal. Akar yang tumbuh dan berkembang hanya akan menumpuk di wadah yang kecil dan ketika wadah sudah penuh dengan akar maka akar tidak mampu lagi untuk tumbuh dan bergerak bebas, belum lagi ruang yang semakin sesak oleh akar akan membuat oksigen menjadi banyak berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. 
Perkiraan kami mungkin  benar, setelah tanaman pare mulai besar, akar tanaman menjalar kemana-mana hampir seluruh sisi growbed dijangkau. 


Growbed pare belut.

Setelah umur sekitar 2 bulan, bunga mulai muncul, karena baru pertama kali melihat bunga pare belut, kami heran, kenapa bunganya sama sekali berbeda dengan pare pada umumnya, bahkan warnanya pun tidak sama, pare belut berwarna putih. Selain warna yang berbeda, bunga pare jantan juga unik, 1 tangkai bisa terdiri dari beberapa bunga, berbeda dengan bunga pare biasa, di mana 1 tangkai untuk 1 bunga. Tapi meski berbeda, tetap ada persaman. Bunga pare betina muncul setelah beberapa bunga jantan bermunculan, sama seperti pare pada umumnya.  


Bunga pare belut yang cantik.

Dari sekian bunga betina yang muncul, ternyata hanya beberapa yang akhirnya tetap tumbuh dan membesar, beberapa yang lain mengering dan gugur.


Bunga jantan, 1 tangkai beberapa bunga.


Bunga betina.

Saat pertama kali melihat buah pare yang terlihat membesar, jujur kami kagum karena ternyata bisa berbuah di akuaponik, dan ketika semakin hari semakin besar dan memanjang kami tambah kagum lagi, karena ternyata buahnya bisa begitu panjang. Bukan hanya saya (penulis) yang kagum, tapi seluruh keluarga juga merasakan hal yang sama he...


Buah pertama.


Ternyata setelah kemunculan buah pertama, beberapa minggu kemudian bermunculan buah-buah berikutnya dan mulai membesar dan panjang. 


Buahnya mulai banyak.



Perkembangan buah pare belut terbilang cepat, karena dalam 2 minggu, dari yang tadinya bakal buah sudah menjadi buah yang besar dan panjang panjang, sekitar minggu ke-3 dan buah masih 'empuk' kami petik untuk dimasak. Ada 1 buah yaitu buah perdana yang kami biarkan menua untuk kami ambil bijinya, sehingga kami tetep bisa menanam saat pohon pertama ini nanti tutup usia.

Dalam menanam pare belut ini, kami menggunakan sistem pasang surut yang dikendalikan oleh siphon apung dan media yang digunakan adalah pasir malang. Kami menanam di sistem akuaponik kolam koi, yang sudah kami bangun sejak 2015. 


Kolam koi


Si kembar siphon apung.

Demikian pengalaman kami menanam pare belut di sistem akuaponik.

Salam hijau akuaponik
Wana Wana

Saturday, 24 March 2018

Alat Pembungkus/brongsong Buah Jarak Jauh

Pada tanggal 19 Maret 2018, sewaktu duduk santai di pinggir kolam, bersama istri kaget melihat buah jambu matang dan besar yang posisinya sangat tinggi dimakan kalong/codot. Berawal dari kisah itulah kami berfikir bagaimana membuat alat yang bisa membrongsong jambu-jambu yang posisinya tidak mungkin dijangkau oleh tangan. Saat itu juga muncul ide cara kerja sebuah alat yang bekerja membrongsong buah dari jarak jauh, dimulai dengan peragaan jari-jari tangan lalu berkembang untuk membuatnya dari potongan peralon yang kebetulan ada.
Setelah alat tercipta, hari berikutnya dilakukan ujicoba dan ternyata berhasil, bahkan lebih cepat dan mudah, kami tidak perlu memanjat pohon, cukup dengan tongkat yang panjang. Hari pertama ujicoba hanya 2 buah jambu karena hari mulai malam. Hari beruikutnya dilanjutkan dengan buah yang lebih banyak dan posisi yang lumayan tinggi.
Alat pertama telah tercipta, tapi muncul ide untuk menyempurnakan, karena proses tarikan lumayan berat, nah untuk alat kedua ini jauh lebih mudah dan ringan dalam penggunaannya. Jadi saran kami langsung saja buat alat yang ke-2.

Dalam membuat alat bantu brongsong alat  ke-2  tersebut diperlukan alat dan bahan antara lain:

Alat
1. Gergaji besi, digunakan untuk menggergaji paralon/pvc.
2. Lem tembak.
3. Gunting, untuk memotong tampar/tali.
4. Tang, untuk memotong kawat dan juga mengencangkan ikatan kawat.
5. Pensil, untuk menandai bagian paralon/pvc yang akan dipotong.
6. Penggaris, untuk pengukuran.
7. Solder atau bor untuk melubang pada pvc.

Bahan
1. Paralon/pvc, ukuran paling tidak 15 cm untuk bagian luar  dan 10 cm untuk bagian dalam, dengan ukuran 3" atau menyesuaikan buah.
2. Tali tambang/plastik, untuk proses penarikan dengan panjang menyesuaikan kebutuhan.
3. Lakban, untuk merekatkan kembali pvc bagian dalam yang sudah dikurangi diameternya.
4. Karet gelang atau pentil untuk merekatkan ujung paralon yang dipotong dengan jumlah secukupnya antara 3-5.
5. Tongkat, dengan panjang menyesuaikan kebutuhan.
6. Plastik pembrongsong ukuran 2 kg, bisa juga memakai pembrongsong lain.
7. Karet gelang untuk yang diikatkan pada plastik pembrongsong.
8. Kawat untuk mengikatkan alat pembrongsong pada kayu/bambu.

Di video yang kami sertakan ini ada prisip kerja alat pembrongsong, semoga dengan mengetahui cara kerjanya Sahabat akan dapat membuatnya dengan mudah.




Dalam demo saat membrongsong, plastik pembrongsong berada di luar alat/pvc dan plastik pembrongsong ujung bagian bawah berlubang, nah untuk pembrongsong yang tidak berlubang bisa dibalik, pembrongsong bisa diletakkan di dalam alat/pvc.

Sekian dulu, nanti foto yang lain akan menyusul, mohon maaf jika ada kekurangan.

Trimakasih
Wana Wana