Saturday, 11 August 2018

Belajar Akuaponik Sistem DFT

Dalam akuaponik terdapat berbagai teknik menanam, beberapa diantaranya adalah sistem pasang surut, sistem aliran atas, sistem sumbu, sistem tower/menara, sistem rakit apung sistem NFT dan sistem DFT. Beberapa sistem telah saya coba, untuk sistem pasang surut dan sistem aliran atas sampai saat ini masih menjadi primadona. Mengapa sistem pasang surut dan sistem aliran atas menjadi primadona, dari pengalaman selama ini, ada beberapa kelebihan dari sistem ini, antara lain mudah diaplikasikan, pertumbuhan tanaman lebih stabil, berbagai jenis tanaman bisa diaplikasikan dengan sangat baik dan tentu saja air kolam menjadi lebih jernih dengan sistem ini, meski aliran air langsung dialirkan ke kolam dari tanaman.  
Dari sekian banyak teknik menanam, sistem NFT dan DFT sebenarnya sangat menarik, terlebih jika kita ingin menanam sayuran daun seperti kangkung, sawi, slada, seledri, dll. Hanya dengan berbekal 1 pipa pvc panjang 4 m dan berdiameter minimal 2,5" kita bisa menanam sekitar 20 tanaman sayur yang jika bisa tumbuh subur akan terlihat sangat cantik dan menarik. 
Sistem NFT atau Nutrient Film Technique dan DFT atau Deep Flow Technique merupakan sistem yang hampir sama, yang membedakannya adalah kedalaman air atau nutrisi. Sistem NFT memiliki kedalaman yang sangat dangkal atau bisa dikatakan tipis sesuai dengan namanya film, sedangkan DFT tentu lebih dalam sesuai juga dengan namanya deep. Jadi bisa dikatakan dengan bahasa mudahnya, NFT aliran tipis tanpa genangan dan DFT aliran yang ada genangannya. Memang secara pribadi saya masih bingung juga, apakah NFT dan DFT hanya berdasarkan kedalaman air saja, ataukah  teknik peletakan tanaman juga harus dikhususkan supaya dapat disebut NFT atau DFT. Saya tentu tak ingin berdebat panjang, yang terpenting bagaimana kita bisa menumbuhkan tanaman dengan sistem akuaponik yang mirip dengan sistem DFT atau NFT he...
Memang teknik ini terlihat mudah, hanya sekedar mengalirkan air ke pipa pvc dan menggantungkan tanaman di atasnya maka tanaman bisa subur. Kenyataannya tidak semudah itu. Kurang lebih 6 tahun ber-akuaponik, saya berusaha untuk mencoba mengumpulkan pengalaman dan mencari apa saja penyebab tanaman tidak subur dalam sistem akuaponik. Sistem NFT dan DFT pernah saya coba,  waktu itu akuaponik benar-benar belum seheboh sekarang sehingga saya tidak tahu jika yang saya coba itu adalah teknik NFT atau DFT. Dari hasil yang dicoba, ternyata tanaman tumbuh mengenaskan, ketika itu percobaan dihentikan dan lebih fokus ke sistem pasang surut dan sistem aliran atas. 
Dengan banyak mencoba dan mengamati, saya semakin paham bahwa yang kita tanam sebagian besar adalah tanaman darat, bukan tanaman air seperti kangkung, jadi kita harus memperlakukannya berbeda. Seperti halnya kita memelihara ikan dan ayam, jika ayam kita tenggelamkan ke air seperti ikan, 10 menit saja mungkin akan mati karena kehabisan oksigen. Dari pengalaman berakuaponik selama ini, ternyata juga demikian halnya, tanaman darat jika kita rendam dalam air tanpa ada oksigen, ya secara perlahan akan mati juga. 
Apa yang saya lakukan selama ini adalah tetap berpegang prinsip dan keyakinan bahwa tanpa penambahan unsur dari luar pun tanaman akan bisa subur, dengan sistem pasang surut, mupun sistem aliran atas hal itu sudah terbukti, terlihat dari artikel-artikel saya sebelumnya.
Nah dari pengalaman pasang surut dan aliran atas itulah akhirnya saya mendapatkan banyak ilmu, berbekal ilmu itulah saya mencoba lagi sistem DFT. 

Dalam sistem yang coba saya bangun, saya tidak melibatkan aerator, hal itu adalah upaya saya untuk mengurangi konsumsi listrik, untuk itulah saya berusaha menemukan cara supaya tanaman tetap bisa bernafas dalam sistem DFT.
Secara kebetulan pipa pvc yang saya pergunakan ada dua ukuran, yang pertama ukuran 2,5" yang dulu pernah saya gunakan dan akhirnya dihentikan, yang ke-dua ukuran 4". 

Untuk pvc 2,5" penanaman menggunakan netpot dan media yang digunakan untuk menanam adalah rockwall. 
Pada artikel sebelumnya, saya mencoba berbagi tentang pembibitan dengan menggunakan endapan kotoran ikan yang sudah hancur dan tidak berbau. Pembibitan pada tanaman sawi yang akan ditanam pada pvc 2,5" ini menggunakan rockwall yang diletakkan diatas endapan kotoran ikan, dalam pemikiran saya, rockwall tidak akan mudah kering, dan setelah akar mulai berkembang maka akan mendapatkan asupan nutrisi dari endapan. Jujur cara ini saya anggap bagus karena pada kenyataannya tanaman bisa tumbuh bagus semasa pembibitan.


Rockwall diletakkan di atas endapan kotoran ikan.

Setelah umur sekitar 2 minggu, tanaman dipindahkan ke netpot dengan sangat hati-hati supaya akar jangan banyak yang terputus. Endapan kotoran ikan yang mengeras ikut dibawa dan diletakkan ke dalam netpot. Endapan yang terbawa ini yang bersentuhan dengan air di dalam pvc, sementara rockwall tidak. 
Seiring waktu, ternyata tanaman tumbuh baik, memang terkadang ada warna kuning yang muncul tapi tidak untuk semua tanaman, dan warna itupan sering berubah ubah dalam waktu beberapa hari. Karena saya tetap mempertahankan nutrisi dari kotoran ikan hal itu saya biarkan sekaligus sebagai bahan pengamatan saya.







Dari yang saya amati, jika salah satu sumber aliran air/nutrisi mampet dan tidak terdeteksi beberapa hari, maka tanaman sawi akan mulai terlihat menguning, tapi setelah diperbaiki daun baru akan mulai hijau kembali, sementara daun yang menguning tetap akan menguning. Tapi secara keseluruhan sistem ini berjalan baik.


Untuk pvc 4", wadah tanam menggunakan gelas bekas minuman mineral yang bagian samping dilubang menggunakan solder, dan bagian bawah dilubang cukup besar dengan diameter sekitar 2 - 2,5 cm. Media yang digunakan terdiri dari rockwall setebal 1 - 1,5 cm diletakkan di dasar gelas. Di atas rockwall diisi pasir malang sampai penuh. Jadi rockwall bertujuan supaya pasir tidak jatuh, selain itu akar yang akan menembus dasar gelas tidak terhalang tapi tetap bisa menembus sampai ke luar. Dengan cara ini harapan saya bisa lebih menghemat rockwall, dan pasir yang digunakan dapat digunakan secara terus menerus.




Karena saya merasa sudah mantap dengan mengandalkan endapan kotoran ikan, maka dalam pembibitan tanaman untuk ditanam di pipa pvc 2,5" ini saya lakukan hal yang sama. bedanya dengan yang 2", sekarang tidak menggunakan rockwall, jadi benih langsung disemai di atas endapan kotoran ikan. 





Setelah umur cukup sekitar 2 minggu, tanaman beserta endapan yang menempel dipindahkan ke wadah gelas dengan media pasir malang yang sudah disiapkan sebelumnya. Untuk level air yang ada di pipa pvc dijaga sampai menyentuh gelas maksimal 1/4 bagian bawah, jadi bisa dikatakan media yang terendam air hanya 1/4 bagian bawah. Karena dalam pemindahan tanaman endapan kotoran yang menempel juga ikut dibawa, maka tanaman dalam proses adaptasi jauh lebih cepat. Oh iya sebelum pemindahan pastikan pasir bagian atas sudah basah karena kapilaritas. 






Dan sampai saat ini usia 10 hari dari pindah tanam, sayuran sama sekali tidak terlihat tanda-tanda menguning, dan ketika coba saya angkat, akar mulai menjalar keluar menyentuh genangan air. Semoga saja percobaan ini berhasil.. 


Bersambung...

Saturday, 30 June 2018

Endapan Untuk Pembibitan

Selama ini, meski sudah agak lama bermain-main dengan akuaponik, masalah pembibitan selalu mengandalkan tanah, karena selain hailnya hasilnya bagus, sistem yang digunakan kebanyakan sistem pasang surut dengan media. 
Suatu hari, pas kebetulan ingin melakukan pembenihan tanaman sawi, karena kebetulan stock sayur di kebun mulai menipis, terpikir untuk mencoba alternatif lain media pembibitan. Media yang dipilih yang subur dan tidak mudah kering. Pilihan dijatuhkan ke endapan kotoran ikan, karena kebetulan saya sering mengambil endapan, sekedar untuk mengurangi supaya tidak terlalu banyak menumpuk. Tentu saja, endapan yang digunakan adalah endapan yang sudah terproses menjadi seperti pupuk, bentuknya sangat lembut dan tidak berbau. 
Endapan dari yang saya amati ada dua macam, endapan yang masih baru dan endapan yang sudah lama yang sudah terproses menjadi pupuk. Endapan baru cenderung masih berbau, jika endapan tersebut kita angkat baunya sangat menyengat. Kebetulan kolam koi terdiri dari beberapa sekat, sekat ke-3 inilah yang banyak terdapat endapan yang sudah menjadi pupuk, jadi endapan ini yang saya ambil.
Sekitar dua minggu yang lalu coba saya praktekkan, endapan diserok dengan jaring ikan yang lubangnya sangat kecil/lembut. Endapan dikumpulkan dalam wadah yang tidak berlubang Pikiran saya waktu itu memilih wadah tidak berlubang karena dalam pembenihan dari biji membutuhkan kondisi yang basah. Setelah wadah penuh, biji mulai diletakkan atau saya tempelkan di permukaan tanpa dipendam.
Selang 1-2 hari biji mulai berkecambah dan mulai dikenalkan dengan sinar matahari. Selama proses pembibitan, hanya minggu ke-2 setelah penyebaran biji, baru dilakukan penyiraman, karena selama 1 minggu pertama endapan masih basah walau air sudah berkurang banyak akibat penguapan dan juga diserap tanaman.









Selama proses pertumbuhan dari biji, semua berjalan baik, hampir semua biji tumbuh, dan ketika sudah mulai muncul daun sejati, ternyata daunnya tetap berwarna hijau, tidak ada tanda-tanda kekurangan nutrisi. Sampai usia 2 minggu tanaman terlihat subur dan siap dipindah. Kebetulan pembibitan kali ini akan ditanam di media tanah.




Dalam proses pemindahan ternyata jauh lebih mudah lagi dibandingkan dengan menggunakan media tanah. Jika menggunakan media tanah cenderung tanah akan hancur dan tersisa akar, jika dengan endapan, tinggal diambil dengan sendok, endapan dan akar menyatu sehingga tanaman jauh lebih cepat beradaptasi ketika dipindahkan. 




Mungkin coba-coba kali ini hanya untuk tanaman sawi, lain kali akan dicoba dengan tanaman lain seperti cabe, tomat, dll.

Selamat mencoba

Wana Wana

Friday, 29 June 2018

Rindu Mengolah Tanah

Sebelum mengenal akuaponik, kebun belakang dimanfaatkan untuk menanam sayuran, dengan media tanah. Sekarang, meski lebih banyak bermain dengan akuaponik, tapi masih sedikit tetap menanam dengan media tanah meski dengan wadah pot kecil dan sering tak terurus.
Lama bermain-main dengan akuaponik, rupanya rindu juga dengan kebiasaan menyiram tanaman, mencangkul, menyiangi tanaman. Harap maklum, dalam menanam sayuran dengan sistem akuaponik, aktivitas seperti menyiram, mencangkul tidak lagi dilakukan, karena dengan akuaponik yang kita lakukan hanya memberi makan ikan, dan mengontrol sistem supaya tetap lancar.
Untuk mengobati rindu kebiasaan menanam dengan media tanah, ada keinginan untuk menghidupkan lagi aktifitas itu, sekaligus untuk pembelajaran anak-anak yang kebetulan sudah mulai bisa diajak 'kerjasama'. Dan supaya dapat terwujud keinginan itu, dicoba untuk memaksimalkan lahan pekarangan yang ada.
Kebetulan pekarangan yang ada  terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan belakang. Untuk memanfaatkan bagian depan rasanya tidak mungkin, karena bagian depan sengaja  ditanami pohon besar, tujuannya untuk menyaring udara yang masuk ke rumah supaya bersih dan segar. Jalan lain adalah memanfaatkan lahan bermain di belakang yang selama ini memang tidak dimanfaatkan untuk menanam namun untuk bermain anak-anak. Supaya anak-anak tetap memiliki aktivitas bermain di luar ruangan, maka untuk mengganti lahan bermain di belakang, di depan di bawah pepohonan dibuatkan area bermain buat anak-anak, walau hanya sederhana dan dibuat sendiri he..





Depan buat bermain.

Sebelum memanfaatkan ruang bermain di lahan belakang untuk menanam sayuran, tentu harus mendapatkan persetujuan istri juga, nggak boleh egois he... Setelah disetujui, barulah dieksekusi. Lahan untuk menanam dibuat bedengan yang terdiri dari 3 kotak. Supaya bisa rapi dan tanah tidak melorot, untuk tiap bedengan dipasang pembatas dari policarbonat yang kebetulan ada bekas atap pendopo dan tak terpakai.
Meski tidak besar, tapi dengan cara ini menanam sayuran di tanah bisa terkabul he... Di lahan ini, saya dan keluarga bisa menyiram sayuran dengan gembor, mengolah tanah dengan cangkul atau 'gathul', bisa menyiangi jika lahan sudah banyak ditumbuhi rumput liar, dan masih banyak lagi.


Biar kayak di luar negri he...


3 bedeng, 1 sudah terisi, 2 lagi belum.


Yang lebih penting, meski anak-anak masih kecil, paling tidak mereka bisa melihat kebiasaan orang tuanya bercocok tanam, dengan cara inilah semakin lama mereka akan semakin tertarik, seperti pepatah yang mengatakan 'Treno Jalaran Seko kulino'. Dan pada saatnya tiba mereka mulai dilibatkan dan diberi tanggungjawab walau hanya menyiram setiap hari.

Untuk tanah, saya memanfaatkan kompos dari bank sampah daun yang sudah jadi, dicampur dengan pupuk kandang. Dengan cara ini dedaunan kering yang gugur bisa lebih bermanfaat lagi daripada harus dibuang atau dibakar. 
Semoga dengan cara ini semangat berkebun akan terus membara.... amin...

Selamat berkebun

Wana Wana

Sunday, 3 June 2018

Pare Belut/Ular Akuaponik

Setelah 2 bulan lebih tidak menulis karena pekerjaan yang banyak menyita waktu, kini setelah lebih longgar akhirnya bisa berbagi lagi tentang akuaponik. Meski pekerjaan menumpuk, di sore hari sepulang kerja, akuaponik tetap menjadi perhatian, karena bagaimanapun akuaponik menjadi aktivitas penting di keluarga kami. Walau hasilnya bukan dalam bentuk uang, tapi apa yang dihasilkan dari akuaponik sangat bermanfaat bagi keluarga, selain sayur dan lauk, kami bisa mendapatkan lingkungan yang asri, banyak oksigen yang tentu membuat lingkungan lebih sehat, dan berbagai keindahan dan keunikan semua makluk yang menjadi bagian dari akuaponik.
Postingan kali ini kami berbagi tentang pare belut atau pare ular yang kami tanam di sistem akuaponik. Awal menanam sebenarnya tidak sengaja, hanya kebetulan tetangga kami depan rumah, Ibu Eko menanam pare belut yang buahnya tinggi bergelantungan di atas pohon dan menarik perhatian kami he... Sampai akhirnya suatu hari kami lihat ada yang sudah tua dan sepertinya ada biji yang berjatuhan, dan kami meminta sebagian biji yang jatuh untuk ditanam.
Awalnya kami mencoba menanam di tanah karena kami rasa jika di akuaponik dengan buah yang besar dan panjang akan sulit. Setelah biji yang kami semai di tanah tumbuh 2 helai daun, pikiran kami berubah, kenapa tidak mencoba di akuaponik, siapa tahu bisa berbuah, karena sayuran buah yang lain juga bisa tumbuh.
Dalam menanam pare belut di akuaponik ini, sengaja kami letakkan di growbed yang besar, karena dari pengalaman, ketika menanam tanaman seperti tomat, pare, cabe jika ditanam di growbed yang ukurannya kecil meskipun itu akuaponik, pertumbuhan tanaman tidak maksimal, kemungkinan besar karena perakaran tidak bisa tumbuh maksimal. Akar yang tumbuh dan berkembang hanya akan menumpuk di wadah yang kecil dan ketika wadah sudah penuh dengan akar maka akar tidak mampu lagi untuk tumbuh dan bergerak bebas, belum lagi ruang yang semakin sesak oleh akar akan membuat oksigen menjadi banyak berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. 
Perkiraan kami mungkin  benar, setelah tanaman pare mulai besar, akar tanaman menjalar kemana-mana hampir seluruh sisi growbed dijangkau. 


Growbed pare belut.

Setelah umur sekitar 2 bulan, bunga mulai muncul, karena baru pertama kali melihat bunga pare belut, kami heran, kenapa bunganya sama sekali berbeda dengan pare pada umumnya, bahkan warnanya pun tidak sama, pare belut berwarna putih. Selain warna yang berbeda, bunga pare jantan juga unik, 1 tangkai bisa terdiri dari beberapa bunga, berbeda dengan bunga pare biasa, di mana 1 tangkai untuk 1 bunga. Tapi meski berbeda, tetap ada persaman. Bunga pare betina muncul setelah beberapa bunga jantan bermunculan, sama seperti pare pada umumnya.  


Bunga pare belut yang cantik.

Dari sekian bunga betina yang muncul, ternyata hanya beberapa yang akhirnya tetap tumbuh dan membesar, beberapa yang lain mengering dan gugur.


Bunga jantan, 1 tangkai beberapa bunga.


Bunga betina.

Saat pertama kali melihat buah pare yang terlihat membesar, jujur kami kagum karena ternyata bisa berbuah di akuaponik, dan ketika semakin hari semakin besar dan memanjang kami tambah kagum lagi, karena ternyata buahnya bisa begitu panjang. Bukan hanya saya (penulis) yang kagum, tapi seluruh keluarga juga merasakan hal yang sama he...


Buah pertama.


Ternyata setelah kemunculan buah pertama, beberapa minggu kemudian bermunculan buah-buah berikutnya dan mulai membesar dan panjang. 


Buahnya mulai banyak.



Perkembangan buah pare belut terbilang cepat, karena dalam 2 minggu, dari yang tadinya bakal buah sudah menjadi buah yang besar dan panjang panjang, sekitar minggu ke-3 dan buah masih 'empuk' kami petik untuk dimasak. Ada 1 buah yaitu buah perdana yang kami biarkan menua untuk kami ambil bijinya, sehingga kami tetep bisa menanam saat pohon pertama ini nanti tutup usia.

Dalam menanam pare belut ini, kami menggunakan sistem pasang surut yang dikendalikan oleh siphon apung dan media yang digunakan adalah pasir malang. Kami menanam di sistem akuaponik kolam koi, yang sudah kami bangun sejak 2015. 


Kolam koi


Si kembar siphon apung.

Demikian pengalaman kami menanam pare belut di sistem akuaponik.

Salam hijau akuaponik
Wana Wana

Saturday, 24 March 2018

Alat Pembungkus/brongsong Buah Jarak Jauh

Pada tanggal 19 Maret 2018, sewaktu duduk santai di pinggir kolam, bersama istri kaget melihat buah jambu matang dan besar yang posisinya sangat tinggi dimakan kalong/codot. Berawal dari kisah itulah kami berfikir bagaimana membuat alat yang bisa membrongsong jambu-jambu yang posisinya tidak mungkin dijangkau oleh tangan. Saat itu juga muncul ide cara kerja sebuah alat yang bekerja membrongsong buah dari jarak jauh, dimulai dengan peragaan jari-jari tangan lalu berkembang untuk membuatnya dari potongan peralon yang kebetulan ada.
Setelah alat tercipta, hari berikutnya dilakukan ujicoba dan ternyata berhasil, bahkan lebih cepat dan mudah, kami tidak perlu memanjat pohon, cukup dengan tongkat yang panjang. Hari pertama ujicoba hanya 2 buah jambu karena hari mulai malam. Hari beruikutnya dilanjutkan dengan buah yang lebih banyak dan posisi yang lumayan tinggi.
Alat pertama telah tercipta, tapi muncul ide untuk menyempurnakan, karena proses tarikan lumayan berat, nah untuk alat kedua ini jauh lebih mudah dan ringan dalam penggunaannya. Jadi saran kami langsung saja buat alat yang ke-2.

Dalam membuat alat bantu brongsong alat  ke-2  tersebut diperlukan alat dan bahan antara lain:

Alat
1. Gergaji besi, digunakan untuk menggergaji paralon/pvc.
2. Lem tembak.
3. Gunting, untuk memotong tampar/tali.
4. Tang, untuk memotong kawat dan juga mengencangkan ikatan kawat.
5. Pensil, untuk menandai bagian paralon/pvc yang akan dipotong.
6. Penggaris, untuk pengukuran.
7. Solder atau bor untuk melubang pada pvc.

Bahan
1. Paralon/pvc, ukuran paling tidak 15 cm untuk bagian luar  dan 10 cm untuk bagian dalam, dengan ukuran 3" atau menyesuaikan buah.
2. Tali tambang/plastik, untuk proses penarikan dengan panjang menyesuaikan kebutuhan.
3. Lakban, untuk merekatkan kembali pvc bagian dalam yang sudah dikurangi diameternya.
4. Karet gelang atau pentil untuk merekatkan ujung paralon yang dipotong dengan jumlah secukupnya antara 3-5.
5. Tongkat, dengan panjang menyesuaikan kebutuhan.
6. Plastik pembrongsong ukuran 2 kg, bisa juga memakai pembrongsong lain.
7. Karet gelang untuk yang diikatkan pada plastik pembrongsong.
8. Kawat untuk mengikatkan alat pembrongsong pada kayu/bambu.

Di video yang kami sertakan ini ada prisip kerja alat pembrongsong, semoga dengan mengetahui cara kerjanya Sahabat akan dapat membuatnya dengan mudah.




Dalam demo saat membrongsong, plastik pembrongsong berada di luar alat/pvc dan plastik pembrongsong ujung bagian bawah berlubang, nah untuk pembrongsong yang tidak berlubang bisa dibalik, pembrongsong bisa diletakkan di dalam alat/pvc.

Sekian dulu, nanti foto yang lain akan menyusul, mohon maaf jika ada kekurangan.

Trimakasih
Wana Wana

Sunday, 11 February 2018

Ujicoba Bawang Merah Akuaponik Dari Biji

Pada awal tahun 2015, tepatnya bulan April kami membangun "Akuaponik Koi Jilid II" dan salah satu tanaman yang ditanam waktu itu adalah bawang merah. Bawang merah yang coba kami tanam berasal dari umbi bawang merah yang sudah tua yang diambil di dapur. Hasilnya tidak terlalu jelek, bahkan cukup lumayan, meski ditanam dengan sistem akuaponik yang mana hanya mengandalkan nutrisi dari kotoran ikan yang sudah terproses alami menjadi pupuk di filter biologis.
Dan tepat tanggal 1 September 2017, kami menanam bawang merah lagi, kali ini berbeda dari sebelumnya. Kami menanam bawang merah bukan dari umbi yang sudah tua, melainkan dari biji bawang merah yang ukurannnya kecil dan berwarna hitam. "Penemuan" biji inipun sebenarnya tidak sengaja, ketika belanja bibit, ternyata melihat benih biji bawang merah, dan seketika itu langsung tertarik untuk mencoba.


Biji bawang merah


Dalam penanaman kali ini, kami masih menggunakan akuaponik yang sama dengan sebelumnya yaitu akuaponik jilid II, hanya saja media yang kami gunakan berbeda yaitu pasir malang dan sistem penanaman masih sama yaitu pasang surut dibantu siphon apung. Benih kami tanam pada tanggal 1 September 2017, dengan langsung memasukkan biji ke dalam lapisan pasir dengan kedalaman sekitar 1-2 cm, dengan jarak tanam yang masih acak. Di usia 10 hari, biji sudah mulai tinggi langsing dengan rata-rata kulit dari biji bawang belum terlepas dari ujung daun bawang. 
Jujur, melihat perbedaan pertumbuhan dari umbi dan biji terlihat sangat kontras dari segi ukuran. Bawang yang tumbuh dari biji, terlihat sangat kecil dan sangat lemah, bahkan kami sampai tak yakin tanaman bawang tersebut akan bisa bertahan hidup. Selama pertumbuhan, tidak banyak yang kami lakukan, hanya ketika ada gulma yang mulai rimbun kami coba singkirkan supaya tidak terlalu mengganggu pertumbuhannya.






Usia 10 hari.


Ditanam di bulan september sebagai bulan memasuki musim penghujan sepertinya kurang tepat, karena bulan berikutnya sudah mulai musim penghujan, yang artinya akan banyak mendung sehingga cahaya matahari akan lebih sedikit. 
DAri yang kami amatai, minimnya sinar matahari dan mulai banyaknya hujan, membuat lapisan pasir bagian atas selalu dalam kondisi basah yang berlebihan, ditambah lapisan kering hanya sekitar 5 cm. Lapisan kering 5 cm untuk media pasir malang, membuat lapisan atas pun akan sangat basah.  Akibat dari kondisi tersebut beberapa tanaman bawang mulai membusuk. Dan sebagai catatan, tanaman yang dekat sumber air juga tidak mampu bertahan hidup alias membusuk.
Seiring waktu, tanaman yang bertahan hidup yang jauh dari sumber air ternyata mulai berumbi, dan ini yang membuat saya takjub, karena yang saya bayangkan akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa berumbi, jika mengingat lagi biji yang ditanam. 
Pada bulan ke-4 sebenarnya sudah bisa dipanen, karena beberapa umbi sudah terlihat sempurna, tapi melihat ciri daun yang masih hijau kokoh, pemanenan diundur sampai terlihat daun menguning kecoklatan. Baru pada bulan ke-5 diputuskan untuk dipanen. Dari umbi yang berhasil dipanen, ada beberapa yang daunnya sudah hilang, begitu juga akarnya, namun ada beberapa yang akar dan daunnya masih bagus, bahkan ada 1 yang umbinya masih kecil belum saatnya dipanen.


Yang jauh dari sumber air yang bertahan.



Hasil ujicoba.


Bawang merah yang ditanam adalah bawang merah tuk tuk, sesuai dengan yang tertera di kemasan. Jika melihat gambar yang ada dikemasan, hasil dari bebrapa panenan, mirip dengan apa yang ada di gambar kemasan. bentuknya bulat sedang dan hanya ada 1 umbi untuk 1 pohon. 


Gambar di kemasan

Meski hanya beberapa tanaman yang jumlahnya sangat sedikit, tapi bisa memanen dan beberapa hasilnya bagus, kami sangat senang. Tentu dari pengalaman ini kami mendapatkan ilmu yang berguna. 
Selanjutnya, kami mencoba menanam lagi dan lebih banyak, mengingat sebentar lagi akan musim panas. Dan kali ini kami juga akan menambah lapisan pasir supaya lebih tebal dan tidak terlalu basah.





Kiranya inilah pengalaman berharga kami dalam menanam bawang merah dari biji dengan sistem akuaponik, semoga ada manfaatnya.

Salam akuaponik

Wana Wana

Sunday, 21 January 2018

Empon-empon Akuaponik (Kunyit)

Akuaponik "ibc" ketika pertama dibangun, posisinya cukup bagus untuk mendapatkan sinar matahari , mulai dari pagi sampi sore sekitar pukul 3. Seiring waktu, tanah milik tetangga di posisi sebelah timur dibangun rumah 2 lantai, sejak saat itu, sinar yang didapat  akuaponik ibc menjadi berkurang banyak, ditambah pohon jeruk purut yang kami tanam disampingnya. Bagaimanapun itu adalah bagian dari dinamika kehidupan yang harus kita terima dengan keiklasan. 
Dalam hidup selalu dihadapkan pada pilihan, dan itupun terjadi dalam akuaponik. Karena posisi akuaponik ibc yang sudah tidak "nyaman" lagi, tentu membuat kita harus memutuskan supaya akuaponik ibc tetap bermanfaat bagi keluarga. Bagi kehidupan ikan, tentu kondisi tersebut tidak terlalu bermasalah, tapi bagi tanaman sayur akan bermasalah, karena mereka membutuhkan cahaya untuk hidupnya. Pernah terbersit untuk memaksimalkan cahaya dengan lampu, tapi mengingat kebutuhan listrik yang nantinya meningkat, akhirnya tidak dilaksanakan. Pernah juga terbersit mengubah posisi akuaponik ibc, tapi mengingat lagi pertama kali mendesain posisi sudah maksimal, akhirnya tidak dilaksanakan. Pohon jeruk purut yang kami tanam, bagaimanapun tidak akan kami korbankan, karena nilai manfaatnya yang besar, apalagi sekarang sudah masanya berbuah dan kami sudah merasakan manfaatnya baik untuk minuman maupun sebagai penghilang bau badan alami.



Jeruk purut berbuah banyak.


Memahami kondisi yang ada, kami akhirnya memilih untuk tetap memanfaatkan akuaponik dengan menanam tanaman yang memang cocok degan kondisi cahaya yang minim. Dari apa yang pernah kami baca, akirnya kami mencoba menanaminya dengan tanaman empon-empon. 
Untuk percobaan awal kami menanam kunyit/kunir dan kencur yang memang banyak kami butuhkan. Selain untuk bumbu masak kunyit sering kami gunakan untuk campuran dalam membuat minuman "jarwo", jahe jeruk gulo jowo, kebetulan jeruk yang kami gunakan adalah jeruk purut yang kami tanam juga. 


Tanaman kencur mulai tumbuh (lingkaran kuning)


Dalam menanam, kami menggunakan bibit dari dapur, masing masing sebesar ruas jari dan bibit tidak diletakkan di daerah pasang surut, tapi di bagian atas/"kering" yang tidak tersentuh air pasang. Sengaja kami melakukan hal itu, karena kami melihat kondisi bahwa media bagian atas yang tidak tersentuh air pasang sudah basah dan penuh dengan kotoran cacing yang menyuburkan. Perlu diketahui bahwa cacing sengaja kami pelihara di growbed supaya kotoran ikan maupun endapan yang sudah terurai dan terbawa masuk ke growbed bisa dimakan oleh cacing dan menghasilkan kotoran yang menyuburkan. Dengan meletakkan di daerah "kering", tentu akan mengurangi resiko umbi membusuk, jika sewaktu waktu terjadi masalah pada siphon.
Dalam perkembangan awal, keduanya bisa tumbuh dengan baik. Khusus kencur rupanya bermasalah, karena memang jenis tanaman yang tidak tinggi sehingga terhalang oleh tanaman kunyit yang jenisnya bisa tumbuh tinggi, sehingga sinar yang seharusnya diterima bisa sama dengan kunyit, karena terhalang akhirnya menjadi lebih sedikit. 
Penanaman kunyit & kencur sekitar pertengahan Maret 2017. Sengaja kami tidak melakukan perawatan terhadap kunyit & kencur, apalagi kencur kami anggap sudah tidak ada. Setiap hari kami hanya mengamati sambil memberi makan ayam dan ikan, dan sesekali memastikan aliran air lancar baik yang masuk growbed maupun yang keluar growbed. 
Sampai akhirnya tanaman utama kunyit tumbuh dewasa dan menua dengan ditandai daun yang mengering dan bunga yang pernah muncul. Di sekeliling tanaman utama mulai tumbuh tunas baru bahkan, terlihat kerikil mulai terangkat sebagai tanda ada pertambahan volume di bawah kunyit. Sesekali ketika kami membutuhkan, kami tinggal korek kerikil dan mengambil kunyit seperlunya saja.
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, terlihat beberapa tanaman sudah mulai menua, dan sempat kami lihat beberapa kali berbunga. Akhirnya tepat tanggal 19 Januari 2018, kami putuskan untuk memanen. 
Proses memanen ternyata susah, karena tanaman saling terkait, ketika mencoba mencabutnya, yang terjadi justru umbinya tertinggal. Awalnya kami kira susah dicabut karena berada dilapisan kerikil, tapi setelah kami korek dan berhasil dicabut, jujur... kaget dengan apa yang kami lihat. Kami tak pernah membayangkan akan sebanyak ini, bayangan kami hanya beberapa ruas saja. Mbah uyut yang kebetulan duduk duduk dan melihatnya juga kaget sampai bilang "wo..ampuh tenan kui" he...






Ini pertamakali menanam kunyit, di akuaponik lagi, dan hasilnya lumayan. Akhirnya kami putuskan menanam lagi karena ada beberapa tunas yang sudah agak besar. Dari pengalaman ini, rencana kami akan menanami dengan berbagai jenis empon-empon yang lain biar semakin lengkap, mengingat akuaponik ibc sekarang kondisinya yang kurang cocok untuk sayuran. Tapi bagaimanapun, akhirnya kami tetap bisa memanfaatkan akuaponik ibc sehingga tetap bermanfaat bagi keluarga kami.



Hasil panenan dari bibit 1 ruas jari.


O iya selain kunyit kami juga menanam jahe merah, dan sudah mulai bertunas banyak, semoga kami bisa memanen lagi dengan hasil yang lebih banyak he...


Jahe merah akuaponik.

Sampai disini dulu kami berbagi pengalaman, semoga bermanfaat.


Salam akuaponik

Wana Wana