Friday, 30 October 2015

Jangan Meremehkan Bak Pengendapan (Akuaponik)

Pada pertengahan tahun 2011, kami membangun kolam koi di belakang rumah, dan kami menerapkan filter vegetasi yang dulu kami pelajari dari sini, dimana di bak pengendapan diberi tanaman untuk menyerap unsur hara. Untuk tanaman kami menggunakan kiambang, karena 'kerakusannya' menyerap unsur hara.
Setelah mencoba mengamati pertumbuhan kiambang, memang ada perbedaan kesuburan. Pada awalnya kiambang terlihat kurang subur, daun berwarna kekuningan sebagai tanda unsur hara belum tersedia banyak. namun seiring waktu, kami sempat kewalahan karena pertumbuhannya begitu pesat dan semakin banyak.


Kiambang di awal kami menanam.


Kiambang yang tumbuh lebih subur.

Sebelumnya, kami belum mengenal akuaponik, sehingga frekuensi membersihkan endapan kotoran lebih sering, mungkin bisa 1-2 bulan sekali. Dari pengalaman kami selama membersihkan bak pengendapan, memang ada perbedaan antara pengendapan bak ke-1 & ke-2. Bak ke-1 cenderung banyak sekali kotoran yang belum terurai sempurna, untuk dedaunan cenderung menjadi berlendir, dan jika dalam jangka waktu satu minggu saja tidak diambil, maka bak ke-1 akan berbau. Berbeda dengan bak pengendapan ke-2, kotoran yang mengendap teksturnya lembut seperti lumpur tapi tidak berbau. Bak pengendapan ke-2 lebih banyak diisi oleh kotoran yang sudah hancur dan terurai. 
Meskipun tidak secara langsung kami mengamati, akan tetapi seringnya kami melakukan pembersihan endapan, kami menjadi hapal dengan apa yang kami lihat. Dan untuk kasus tanaman, ada perbedaan yang memang menurut kami menarik, antara pertumbuhan sebelum dibersihkan dan sesudah dibersihkan. Sebelum dibersihkan, bak-2 akan terdapat banyak sekali endapan halus dan tanaman begitu subur, dengan warna hijau tua, setelah dibersihkan dan kiambang dikurangi, pertumbuhannya lebih lambat dan warna daun lebih cerah.

Setelah kini kami membangun akuaponik, secara tidak sengaja kami melihat ada hal-hal yang menurut kami memang perlu dicermati dari bak pengendapan. Kami mengenal akuaponik sejak pertengahan tahun 2012 dan beberapa kali kami membangun akuaponik dengan berbagai desain. Dari berbagai pengalaman itulah kami mencoba memutar lagi memori kami, karena kami menduga adanya peranan penting dari bak pengendapan terhadap kesuburan tanaman.    
Dimulai dari kiambang di filter kolam koi, jelas memperlihatkan adanya peranan endapan. Lebih dari itu, ketika kami sudah menerapkan akuaponik di kolam koi, dan setelah kami membersihkan endapan di bak ke-2, ternyata tanaman sayur akuaponik juga mengalami perubahan. Beberapa hari setelah pembersihan, banyak tanaman akan terlihat menguning.
Dan baru-baru ini, kami semakin yakin dengan apa yang kami duga, dan mungkin akan terlihat jelas perbedaanya jika kita melihat foto di bawah ini.


Saat pengendapan penuh kotoran


Setelah pengendapan dibersihkan.

Setelah kami membangun menara akuaponik, kami tidak menyangka sama sekali jika tanaman sawi tumbuh begitu subur, tanaman tumbuh besar dan daun berwarna hijau tua. Perlu diketahui, media hanya menggunakan kapas filter dan air dikucurkan melewati dinding pralon. Tapi setelah kami petik dan hanya menyisakan 1 tanaman, daun justru terlihat mulai menguning, dan itu terjadi setelah bak pengendapan dibersihkan. Dari kejadian ini semakin menegaskan akan dugaan itu, tentu saja kami juga memiliki beberapa bukti lain yang bisa menegaskan hal ini.  

Memang ada banyak yang coba diamati, tapi kejadian sawi di menara akuaponik inilah yang menurut kami 'telak'. Semoga apa yang coba kami amati ini benar adanya. 

Kami membangun akuaponik secara alami, jadi dengan cara mengamati kami mencoba untuk mempelajari. Dan tentu saja kami memiliki pegangan, bahwa alam ini tercipta secara sempurna jadi dengan cara alami semua bisa dilakukan, hanya butuh ketelatenan dan kesabaran untuk mengenalnya lebih dalam. 

Salam Akuaponik.


8 comments:

  1. Mas nanang.. boleh minta email? Saya mau curhat soal aquaponik saya yg d sekolah. Tanemannya pada nguning semuaa..

    ReplyDelete
  2. Berarti kesimpulannya gimana mas.bak pengendapan itu harus ada.atau tidak untuk aquaponik.
    Soale punya saya masih progres konstruksi...he.he..banyak nanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari pengalaman saya selama ini, saya simpulkan harus ada Mas Ispriyoto...
      Sekarang bisa dilanjutkan Mas he....

      Trimakasih..

      Delete
  3. Mas, kolam koi nya pake filter model apa? Mohon jawabannya.

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pakai filter vegetasi, jadi ada 5 bak kecil yang bersekat... Bak 1 untuk limpahan kotoran padat, bak 2 saya kasih batu besar dan busa filter, bak 3 paling besar untuk endapan, bak 4 batu zeolit dan bak 5 untuk pompa, ukurannnya tidak besar.. Dan setelah saya aplikasikan akuaponik, sekarang saya tambah 1 tong untuk pengontrol air sekaligus rumah bakteri...
      Untuk lebih jelasnya filter vegetasi, di artikel ini juga sudah saya sertakan link nya Mas...
      Trimakasih..

      Delete
  4. Salam kenal Mas Nanang,

    Saya Benidictus Aryudi, dari Kabupaten Tabalong Kalsel. Saya belajar banyak hal dari blog ini dalam membangun dan mengoperasikan aquaponik kecil saya diatas dak beton. Maaf sudah banyak mengambil ilmunya, namun baru kulonuwun sekarang :-)

    Mas, untuk bak pengendapan 1 (dari total 2 bak) di system saya, pernah saya tanam kangkung dan pertumbuhannya sangat pesat memang. Namun di akarnya banyak sekali menempel sisa metabolism ikan (lendir yang mengental). Apakah ini wajar ya? So far ikan di kolam drum (ada 2 drum untuk lele dan nila) sehat dan airnya lumayan bersih.

    Saat kangkung saya ganti dengan kapas filter kondisinya juga sama, banyak nempel sisa metabolism ikan.

    Saya rutin membersihkan bak 1 ini (drained dan membersihkan akar kangkung/kapas filter). Mohon sarannya apakah air pasca pembersihan akar kangkung/kapas filter aman jika saya siramkan ke tanaman konvensional (metam Tanah)?

    Matur nuwun banget atas ilmu-ilmunya. Berkah Dalem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Kenal Juga Mas Aryudi nun jauh di Kalsel....
      Trimakasih telah berkunjung ke blog kami, tentunya tak perlu kulonuwun Mas, kita juga secara sukarela berbagi pengalaman he...
      Dulu saya pernah punya pengalaman juga mengenai lendir ini, tapi entah kenapa sekarang tidak lagi terjadi, tapi ketika coba saya ingat-ingat lagi dan coba membandingkan sepertinya ada kaitannya dengan proses penguraian. Saya punya banyak pengalaman untuk hal ini Mas..
      1. Ketika sirkulasi kolam terganggu misal ada penyumbatan baik di pipa ataupun pompa, terkadang banyak kotoran tidak bisa mengalir dengan lancar ke pengendapan akibatnya kolam menjadi keruh dan kemungkinan besar kandungan amoniak menjadi tinggi, dampaknya nafsu makan ikan berkurang dan pakan yang kita berikan menjadi sisa tidak termakan nah saat seperti itu cenderung lendir akan mulai banyak.
      2. Pernah juga juga kepadatan ikan yang saya pelihara tinggi akibatnya kotoran menjadi sangat banyak dan itu juga sering terdapat banyak lendir bahkan sampai ke growbed.
      3. Hampir setiap sore, ikan-ikan (non koi) saya kasih dedaunan seperti murbei dan talas, jika lebih dari 1 hari tidak termakan, daun-daun tersebut mulai berlendir termasuk batang-batangnya, jika tidak segera diambil, kolam menjadi sangat keruh penuh daun yang mulai tercerai berai, berlendir dan berbau.
      4. Untuk kolam koi karena kolam terbuka tanpa atap maka dedaunan banyak yang masuk akibatnya sering terjadi penumpukan daun di bak pengendapan, dan setiap kali saya angkat dedaunan tersebut berlendir dan bau.
      jadi menurut saya, lendir merupakan bagian dari proses pembusukan/penguraikan (walau secara teori saya juga kurang tahu), jika kotoran di bak pengendapan terlalu banyak baik kotoran ikan maupun pakan yang tak termakan sedangkan bakteri yang melakukan proses pembusukan/penguraian terlalu sedikit biasanya lendir itu akan sampai ke growbed, bahkan sampai ke pompa.
      Jadi kepadatan ikan, filter, kebersihan pipa dan pompa dan cara kita membari makan saya kira perlu diperhatikan...

      Untuk pengendapan (bukan yang koi), sekarang sudah tidak pernah saya bersihkan, bahkan sampai 6 bulan filter dan kolam tidak dibersihkan bahkan tidak ganti air, hanya melakukan penambahan air jika air mulai berkurang.

      Untuk air pasca pembersihan kangkung/kapas filter saya kira tak masalah Mas, karena di tanah sendiri juga banyak mikroorganisme sebagai pengurai yang akan menyempurnakan, selama ini, selama air tidak mengandung bahan kimia berbahaya saya pasti gunakan untuk menyiram tanaman, apalagi dari kolam ikan.

      Demikian pengalaman saya Mas, maaf kalo terlalu panjang he....

      Trimakasih kembali dan Berkah Dalem Mas.

      Delete