Sunday, 3 June 2018

Pare Belut/Ular Akuaponik

Setelah 2 bulan lebih tidak menulis karena pekerjaan yang banyak menyita waktu, kini setelah lebih longgar akhirnya bisa berbagi lagi tentang akuaponik. Meski pekerjaan menumpuk, di sore hari sepulang kerja, akuaponik tetap menjadi perhatian, karena bagaimanapun akuaponik menjadi aktivitas penting di keluarga kami. Walau hasilnya bukan dalam bentuk uang, tapi apa yang dihasilkan dari akuaponik sangat bermanfaat bagi keluarga, selain sayur dan lauk, kami bisa mendapatkan lingkungan yang asri, banyak oksigen yang tentu membuat lingkungan lebih sehat, dan berbagai keindahan dan keunikan semua makluk yang menjadi bagian dari akuaponik.
Postingan kali ini kami berbagi tentang pare belut atau pare ular yang kami tanam di sistem akuaponik. Awal menanam sebenarnya tidak sengaja, hanya kebetulan tetangga kami depan rumah, Ibu Eko menanam pare belut yang buahnya tinggi bergelantungan di atas pohon dan menarik perhatian kami he... Sampai akhirnya suatu hari kami lihat ada yang sudah tua dan sepertinya ada biji yang berjatuhan, dan kami meminta sebagian biji yang jatuh untuk ditanam.
Awalnya kami mencoba menanam di tanah karena kami rasa jika di akuaponik dengan buah yang besar dan panjang akan sulit. Setelah biji yang kami semai di tanah tumbuh 2 helai daun, pikiran kami berubah, kenapa tidak mencoba di akuaponik, siapa tahu bisa berbuah, karena sayuran buah yang lain juga bisa tumbuh.
Dalam menanam pare belut di akuaponik ini, sengaja kami letakkan di growbed yang besar, karena dari pengalaman, ketika menanam tanaman seperti tomat, pare, cabe jika ditanam di growbed yang ukurannya kecil meskipun itu akuaponik, pertumbuhan tanaman tidak maksimal, kemungkinan besar karena perakaran tidak bisa tumbuh maksimal. Akar yang tumbuh dan berkembang hanya akan menumpuk di wadah yang kecil dan ketika wadah sudah penuh dengan akar maka akar tidak mampu lagi untuk tumbuh dan bergerak bebas, belum lagi ruang yang semakin sesak oleh akar akan membuat oksigen menjadi banyak berkurang sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. 
Perkiraan kami mungkin  benar, setelah tanaman pare mulai besar, akar tanaman menjalar kemana-mana hampir seluruh sisi growbed dijangkau. 


Growbed pare belut.

Setelah umur sekitar 2 bulan, bunga mulai muncul, karena baru pertama kali melihat bunga pare belut, kami heran, kenapa bunganya sama sekali berbeda dengan pare pada umumnya, bahkan warnanya pun tidak sama, pare belut berwarna putih. Selain warna yang berbeda, bunga pare jantan juga unik, 1 tangkai bisa terdiri dari beberapa bunga, berbeda dengan bunga pare biasa, di mana 1 tangkai untuk 1 bunga. Tapi meski berbeda, tetap ada persaman. Bunga pare betina muncul setelah beberapa bunga jantan bermunculan, sama seperti pare pada umumnya.  


Bunga pare belut yang cantik.

Dari sekian bunga betina yang muncul, ternyata hanya beberapa yang akhirnya tetap tumbuh dan membesar, beberapa yang lain mengering dan gugur.


Bunga jantan, 1 tangkai beberapa bunga.


Bunga betina.

Saat pertama kali melihat buah pare yang terlihat membesar, jujur kami kagum karena ternyata bisa berbuah di akuaponik, dan ketika semakin hari semakin besar dan memanjang kami tambah kagum lagi, karena ternyata buahnya bisa begitu panjang. Bukan hanya saya (penulis) yang kagum, tapi seluruh keluarga juga merasakan hal yang sama he...


Buah pertama.


Ternyata setelah kemunculan buah pertama, beberapa minggu kemudian bermunculan buah-buah berikutnya dan mulai membesar dan panjang. 


Buahnya mulai banyak.



Perkembangan buah pare belut terbilang cepat, karena dalam 2 minggu, dari yang tadinya bakal buah sudah menjadi buah yang besar dan panjang panjang, sekitar minggu ke-3 dan buah masih 'empuk' kami petik untuk dimasak. Ada 1 buah yaitu buah perdana yang kami biarkan menua untuk kami ambil bijinya, sehingga kami tetep bisa menanam saat pohon pertama ini nanti tutup usia.

Dalam menanam pare belut ini, kami menggunakan sistem pasang surut yang dikendalikan oleh siphon apung dan media yang digunakan adalah pasir malang. Kami menanam di sistem akuaponik kolam koi, yang sudah kami bangun sejak 2015. 


Kolam koi


Si kembar siphon apung.

Demikian pengalaman kami menanam pare belut di sistem akuaponik.

Salam hijau akuaponik
Wana Wana

No comments:

Post a Comment